Tuesday, September 15, 2020

Mengheningkan Cipta “September Hitam” Mulai

Mengheningkan Cipta “September Hitam” Mulai

Penulis : IMMawan Firdaus Nurillahi Rauufan Rizkia
(Ketua Bidang Hikmah PK IMM Al-Ghozali Periode 19/20)

    Beberapa peristiwa di bulan september ini membuat rentetan sejarah kelam di tanah air ini. Mulai dari rentetan kasus Hak Asasi Manusia yang tak kunjung usai dimulai tragedi pembantaian 1965-1966, Tanjung priuk 1984, tragedi Semanggi 1999, Pembunuhan Munir 2004, serta tindakan represif kepada masa aksi #reformasidikorupsi yang mengakibatkan salah satu kader IMM meinggal yaitu IMMawan Randi. Beberapa kasus pelanggaran HAM banyak sekali yang belum mendapatkan sebuah arti sebuah makna keadilan bagi rakyat indonesia yang terdapat di pancasila, belum dirasakan sendiri bagi keluarga korban yang kehilangan salah satu anggota keluarganya khususnya korban sendiri yang meninggal maupun jasadnya entah hilang kemana.

    Pertama, tragedi pembataian '65 - '66 negara belum juga mampu memenuhi tanggung jawabnya untuk memberikan keadilan terhadap para korban. Kedua, tragedi Tanjung Priok '84 negara tidak memiliki aeah kebijakan yang berpihak kepada koran untuk memberikan rasa keadilan dalam bentuk kompensasi, restitusi, dan rehabilitas. Ketiga, Tragedi Semanggi II '99, Kejaksaan Agung hingga kini masih belum melanjutkan proses hukum atas hasil penyelidikan Komnas HAM berat.Alih-alih mengalami kejelasan perkembangan kasus, Februari lalu Jaksan Agung justru sempat mengemukakan bahwa Tragedi Semanggi I dan II bukan termasuk pelanggaran HAM berat. Keempat, kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir Said Thalib, tidak juga menyentuh aktor utama peristiwa ini. Justru negara menunjukan hal yang kontradiktif dengan tidak menyampaikan kepada publik hasil temuan Tim Pencari Fakta. Kelima, brutalitas aparat kepolisian dalam aksi reformasi dikorupsi 2019 yang menjadi catatan kelam penanganan aksi pasca reformasi. Atas keberhentiaan pada proses hukum, ketiadaan mekanisme yang adil, transparan, dan akuntabel serta keberpihakan kepada korban dan keluarga korban atas rangkaian peristiwa yang terjadi pada bulan september menggambarkan negara berdosa. Ditambah lagi dan lagi tulinya sang penguasa yang duduk di kursi empuk dan ruangan dingin ber-AC menikmati hasil bayaran iuran pajak uang rakyat. Yang dimana masa pandemi sedang menghampiri namun masih mengerjakan RUU Omnibus Law atau Cipta kerja dengan sistem kebut yang dikejar deadline layaknya laporan masa perkuliahan tanpa menimbang dan mendengarkan suara penolakan dari beberapa elemen masyarakat. Padahal ketika bulan juli terjadi aksi dengan skala nasional dan ketika diadakannya dialog antara perwakilan badan legislatif DPR RI dengan masa aksi di Jakarta, mengatakan tidak akan membahas RUU dan akan fokus kepada penanganan corona namun naas seperti kata penyair di indonesia kalau gak janji gak akan menang, perwakilan rakyat mengibuli rakyat sendiri dengan cepatnya beberapa waktu silam sudah mencapai 75% dan masa tenggang reses sampai 14 oktober 2020 selambat lambatnya. Sangat miris ketika banyak nyawa yang sudah melayang berjuang untuk menyelamatkan beberapa manusia dari bahaya nya covid-19 namun yang dipercaya sebagai wakil rakyat malah mblenjani janji atau ingkar janji kalau kata didi kempot.

    Sekarang pertanyaan yang terlintas seharusnya dibenak kita para kader IMM sendiri, Langkah apa yang akan dibangun oleh IMM selanjutnya ketika beberapa kali absen dalam masa aksi? Apakah hanya mengandalkan kader IMM yang mengeksplor sendiri dan mengakui sisi apabila kader itu mampu memberikan dampak kepada IMM itu sendiri? Atau malah menebarkan fitnah dengan mengikuti organ lain di saat apa yang dimiliki tidak di berikan kepada IMM karena terlanjur merasa dibuang oleh ikatannya sendiri? Perlu di renungkan pada sampai tahapan mana serta tujuan kita ikut untuk ber-IMM sebagai kader IMM sendiri, bila yang selalu digaungkan adalah dakwah itu menyenangkan saya rasa perlu meminimalkan sebuah rasa egosentris yang tertanam dalam diri kita masing masing dan perlunya dukungan penuh atas kader yang mencari ilmu dimanapun berada yang akan membuat kembali marwah IMM sendiri sebagai organ pergerakan. Dan perlu dirasa sebuah pemikiran yang terbuka dan meminimalkan sebuah spekulasi dunia luar penuh dengan proyekan agar mematahkan sebuah asumsi banyak orang “IMM hanya mampu dikandang saja, ketika diluar hola holo atau melempem” dengan berdiskusi dalam sebuah forum atau front dengan idealisme kita masing masing yang akan diberikan kepada ikatan entah hari ini, esok, lusa atau kapanpun itu.

Referensi :
https://kontras.org/2020/09/01/september-hitam-2020-pelanggaran-ham-belum-tuntas-negara-berdosa/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=september-hitam-2020-pelanggaran-ham-belum-tuntas-negara-berdosa

Sunday, August 16, 2020

Menjadi Demonstran yang Bijak dimasa Budegnya Pemerintah

 

Menjadi Demonstran yang Bijak dimasa Budegnya Pemerintah

Penulis : IMMawan Firdaus Nurillahi Rauufan Rizkia

    Dimasa sulit ini dimasa wabah dimana mana, dimasa dimana pemerintah tidak lagi memperdulikan suara rakyatnya kembali, dan disitulah dimana seluruh elemen masyarakat mulai berfikiran saatnya turun aksi ke jalan untuk menekan pemerintah. Namun sayang sangat disayangkan banyak sekali masa aksi yang tidak paham ketika di aksi harus melakukan apa, banyak sekali para masa aksi yang mempunyai maindset ketika saya mencoba menjadi sweepir di kerumunan aksi sempat saya bertanya ke beberapa kawanan masa “mas ikut aksi tujuannya apa mas? Banyak yang menjawab hanya ikut ikut temennya, ikut arahan komando dari atas, ada juga yang paling unik (menjaga agar tertib)­ jawaban dari bapak intel yang bijak hihihi. Nah mulai dari sini perlunya kesadaran dari beberapa elemen biar terwujudnya aksi yang damai dan solid melalui memahami apa yang dibawa dalam aksi, urgensi apa yang akan dibahas di dalam aksi, setidaknya ikut konsolidasi ketika pra aksi, bila pun masih berhalangan setidaknya membaca draf RUU ataupun draf yang akan dituntutkan oleh pemerintah oleh masa aksi. 

    Langkah awal yang perlu menjadikan dasaran ketika diri kita mengikuti aksi adalah sadar betul dari diri kita yang tergerak dan hati kita atas dasar penindasan dan ke dzaliman rezim atas rakyat, di samping itu kita juga harus paham isu ataupun permaslahan apa yang akan diangkat ketika aksi, misal kita sudah membaca beberapa bahan berita ataupun draff yang sudah tersebar di jejaring media masa maupun melalui diskusi terbuka yang sudah di adakan oleh suatu instatnsi. Langkah yang kedua kita harus paham tugas dan fungsi yang mengawal aksi tersebut dikarenakan apabila kita tidak paham maka kita akan mudah terprovokasi oleh penyusup penyusup yang sudah di kerahkan oleh negara, di dalam aksi adalah adanya Korlap atau biasa disebut dengan Koordinator Lapangan yang bertugas mengontrol jalannya aksi yang dimana sura korlap dijadikan patokan bagi peserta aksi untuk bersikap seperti apa di waktu aksi, selain korlap ada juga tugas wakorlap atau Wakil koordinator lapangan yang dimana bertugas membantu korlap ketika susah mengontrol jalannya aksi ketika aksi berlangsung. Ada juga Swiper, disini swiper bertugas ketika hari H jalannya aksi untuk memantau dimana keberadaan polisi, intel dan letak untuk lari aman ketika aksi berjalan chaos.Selain itu ada juga Dinamisator bertugas untuk menggerakkan masa, menyemangati masa agar tetap bergerak sesuai apa yang di tuntutkan di dalam jalannya aksi, selain itu juga ketika di hari H ada juga yang namanya tim medis yang dimana bertugas untuk membantu dan menolong para korban tindakan represif dari aparat bersenjata, disisi lain juga ada yang namanya Narahubung aksi yang dimana sebagai satu satunya kunci untuk bersuara terkait jalannya aksi kepada media masa ataupun reporter. Selain di hari H juga ada pembagian tugas ketika pra aksi yaitu ada sie media, sie humas dan sie propaganda dan sie kajian. Ketika sudah mengetahui beberapa pembagian saat aksi serta langkah apa saja ketika ingin menjadi masa aksi seharusnya kita lebih bijak lagi untuk kedepannya ketika kita menjadi masa aksi, yang jelas ketika menjadi masa aksi kita harus tau siapa kawan siapa lawan, lindungi kawan hindari provokasi dari pihak luar dan bersikap baik sesuai dengan lebel kita sebagai akademisi di tatanan masyarakat. Dan alangkah baiknya kita bisa menyebarluaskan apa yang kita ketahui ke beberapa pihak luas agar semakin banyak yang sadar betapa urgent nya terkait kebijakan pemerintah yang sudah bukan memihak kepada rakyat namun investor dengan dalih memajukan bangsa. Saatnya saling bergandengan tangan, lupakan egosentris suatu elemen, rapatkan barisan hanya satu disaat ini : Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam,kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversive dan mengganggu keamanan. Hanya ada satu kata LAWAN!!

Wednesday, May 27, 2020

Politik Sederhana

POLITIK SEDERHANA
By : Ozora Widianto Haq (Kader PK IMM Al-Ghozali)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

     Apa kabar kawan-kawan sebangsa setanah air di masa ini? Masa dimana kita semua diuji oleh pandemi covid-19 yang telah hadir ditengah-tengah kehidupan kita sehari-hari. Semoga kita senantiasa diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah SWT. 

Baik, disini saya akan sedikit membahas  mengenai politik secara sederhana dan beberapa contoh kejadian di Indonesia pada masa pandemi covid-19 ini agar kita dapat memetik hikmah dari beberapa kejadian itu. Semoga bermanfaat bagi kita semua J

Sebelumnya kawan-kawan pasti tidak asing lagi dengan kata politik bukan? Yap, apalagi ditambah dengan “cap” masyarakat yang menganggap politik itu busuk,  kotor, menjijikan, dan sebagainya. Stigma-stigma yang muncul itu tidak lain disebabkan oleh beberapa oknum yang mencemari citra politik dengan praktik-praktiknya yang membuat jengkel masyarakat.

Akhirnya, masyarakat menjadi tidak acuh terhadap politik. Padahal sebenarnya politik itu sudah melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya dalam sebuah keluarga. Saat kita ingin dibelikan PS4 oleh orangtua, maka kita akan berusaha mencari cara bagaimana agar tujuan tersebut tercapai, tentunya dengan berbagai cara yang baik dan benar. Contoh lainnya bisa kita lihat akhir-akhir ini seperti banyaknya elemen masyarakat yang bergerak untuk mengatasi masalah yang terjadi di masyarakat, seperti membuka Galang Dana, Pembagian Sembako dan APD, membuat pamflet dan video online yang bertujuan untuk edukasi,  dsb. Hal-hal yang dilakukan tersebut pasti ada tujuan yang hendak dicapai, ada hak-hak yang harus dipenuhi, maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai politik sebagaimana contoh-contoh sebelumnya.

Menurut Prof. Andrik Purwasito dalam buku beliau yang berjudul “Pengantar Studi Politik” ada dua cara pandang dalam berpolitik, yaitu realis dan idealis. Orang yang memiliki pandangan realis menganggap bahwa politik hanyalah ajang kompetisi untuk merebut kekuasaan dengan mengadu segala potensi kekuatan, serta menggunakan segala cara untuk mengadu kekuatannya itu, mulai dari menteror hingga kekerasan fisik. Yang kedua yaitu cara pandang idealis. Orang yang memiliki pandangan idealis menganggap bahwa berpolitik sebagai aktivitas manusia yang luhur, karena dalam berpolitik selalu ada kemauan yang baik (idealisme) yang dijalankan pula dengan cara yang baik (etis, visioner, dan mengutamakan kemajuan serta kesejahteraan masyarakat). Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa cara pandang realis dapat berakibat pada praktik politik yang amoral (tidak didasari oleh moral), sedangkan cara pandang idealis dapat berakibat pada praktik politik yang bermoral.

Pelajaran yang dapat diambil dari paparan diatas bahwa politik tidak hanya berkutat pada sistem pemerintahan, melainkan juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Politik yang berlandaskan moral, nilai-nilai luhur, sangatlah penting dalam membangun sebuah kepentingan, tujuan yang akan hendak dicapai, serta cara yang ditempuh untuk mencapainya baik dalam bentuk sederhana maupun kompleks.

Sekian dan terima kasih, apabila banyak kurangnya dalam tulisan ini datangnya dari saya

 Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakaatuh 

Rintangan Mahasiswa ditengah Pandemi Covid-19


Rintangan Mahasiswa ditengah Pandemi Covid-19
By : Dite Adi Putra S (Kader PK IMM Al-Ghozali)

Pada bulan maret 2020 covid 19 mulai ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO , sehingga aktivitas manusi dibatasi termasuk kegiatan pembelajaran. Hal ini diperuntukan agar membatasi penyebaran virus yang masif ini. Menteri pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan surat edaran No 2 Tahun 2020 dan No 3 Tahun 2002 tentang pembelajaran digital dan bekerja dari rumah. Pembelajaran melalui daring merupakan tantangan baru diera industri 4.0. Saat ini pembelajaran digital sedang dimaksimalkan penerapannya di Indonesia, namun hal ini belum menjangkau lapisan sosial bawah. Karena dalam mengakses informasi digital pelajar dan mahasiswa tidak memiliki sarana yang sama, selain itu ditambah dengan perbedaan kemampuan pelajar atau mahasiswa dan dosen dalam menggunakan teknologi.

Bagaimana perkuliahan secara daring berlansung? di indonesia terhitung kurang lebih sudah 2 bulan kita menjalankan kuliah daring. Hal ini membuat perbedaan dalam sistem perkuliahan, beberapa mahasiswa mungkin cukup puas dengan sistem ini, namun tidak sedikit merasa terbebani dengan sistem ini. Dari data yang saya dapatkan dari lembaga kemahasiswaan, saya mengambil kesimpulan, antara lain mahasiswa dihadapkan dengan strategi pembelajaran dosen yang dirasa memberikan mahasiswa beban tersendiri. Dalam pelaksanaan KBM daring mahasiswa menganggap dosen masih berpacu pada tugas-tugas tanpa adanya diskusi dua arah antara mahasiswa dan dosen, sehingga mahasiswa merasa tidak puas dengan sistem pengajaran tersebut. Lalu mahasiswa juga dihadapkan dengan infrastruktur yang kurang memadai. Mahasiswa yang berada di pulau jawa mungkin tidak merasakan danpak yang signifikan, namun beda dengan mahasiswa yang berada di luar pulau jawa mereka memiliki kesulitan akses pada infrastruktur yang tersedia. Maka dari itu peran pemerintah diperlukan untuk mengatasi pemerataan infrastruktur, sehingga mahasiswa atau masyarakat di indonesia dapat dengan mudah mengkases infrastruktur yang tersedia. Adapun mahasiswa yang seharusnya sudah wisuda namun karena kondisi yang tidak memungkinkan, maka wisuda mereka ditunda dan digantikan dengan cara lain yang memungkinkan.

Bagaimana student goverment di tengah pandemi ? sebagai corak dari mahasiswa itu sendiri walaupun tidak secara langsung student goverment tepat berjalan melalui daring. Banyak isu-isu yang terjadi terkait dengan kampus, misal sempat dibuat geger dengan disebarnya petisi yang berisi tentang tidak adilnya jumlah spp yang harus dibayarkan mengingat apa yang mahasiswa berikan tidak sebanding dengan apa yang mereka terima dan setelah diusut hal ini bukan lah hasil dari mahasiswa yang terorganisir namun merupakan buatan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Bahkan jabatan yang harusnya sudah berakhir namun diperpanjang mengingat situasi yang tidak memungkinkan untuk reorganisasi, untuk itu mahasiswa perlu mengawal student goverment yang terjadi di lingkungan kampus dengan seksama.

Selain itu student goverment masih menjalankan perannya sebagai mahasiswa yaitu sebagai agent of change, disaat pemerintah menerbitkan kebijakan yang dirasa janggal atau merugikan masyarkat  melalui student goverment mahasiswa dapat melakukan aksi melalui media daring. Mahasiswa sebagai golongan intelektual juga ikut dalam edukasi kepada masyarakat tentang bahaya covid 19. Mahasiswa tetap melakukan pernnya walapun dengan keadaan yang mengkhawatirkan saat ini. Mereka tetap melakukan berbagai upaya untuk masyarakat dan juga mahasiswa lainnya di kampus walaupun berjalan melalui secara tidak langsung dan terbatas.

Thursday, May 21, 2020

Implementasi Teori Hegemoni Gramsci Terhadap RUU Cipta Kerja


Implementasi Teori Hegemoni Gramsci Terhadap RUU Cipta Kerja
By : Hellen Regga Aprilia (Kader PK IMM Al-Ghozali)

         Ditengah wabah covid-19 yang merupakan permasalahan bagi seluruh warga dunia di Indonesia sendiri ramai membincangkan tentang RUU Cipta Kerja produk dari Omnibus Law yang dianggap merugikan masyarakat terutama kaum buruh atau pekerja. Banyak pihak melakukan aksi agar DPR berhenti membahas RUU tersebut. Membahas aksi Masyarakat terutama buruh yang melakukan demo ditambah dengan keadaan pandemi saat ini, rasanya tidaklah jauh berbeda dengan teori Hegemoni Politik yang di tuliskan Antonio Gramsci. 

Siapa itu Gramsci?

Antonio Gramsci merupakan seorang Intelektual Partai komunis Italia yang pernah di penjara pada masa kepemimpinan Fasis Mussolini. Gramsci lahir di Ales, Italia 22 Januari 1891 dan meninggal pada 27 April 1937. Ia merupakan seorang filsuf, penulis, dan ahli teori politik. Dia memiliki banyak karya yang berfokus pada ahli budaya dan politik. Antonio Gramsci dapat dikatakan sebagai pemikir politik yang utama setelah Marx. Salah satu pemikiran Gramsci yang terkenal ialah hegemoni Politik. Hegemoni adalah penguasaan atau dominasi satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Sedangkan Gramsci berpendapat bahwa hegemoni ialah sebuah rantai kemenangan yang di dapat melalui mekanisme konsesus daripada melalui penindasan terhadap kelas lain. Ada berbagai cara yang dapat dipakai misalnya, melalui yang ada di masyarakat yang menentukan secara langsung dan tidak langsung struktur-struktur kognitif dari masyakarat itu. Itulah sebabnya hegemoni pada hakikatnya adalah upaya untuk menggiring orang agar menilai dan memandang problematika sosial dalam kerangka yang ditentukan (Gramsci, 1976:244).

Hegemoni disini adalah penguasaan yang dilakukan dengan bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai secara sadar maupun tidak sadar. Hegemoni bekerja dengan dua tahap, yaitu tahap dominasi dan tahap pengarahan. Tahap dominasi yang sering dilakukan oleh alat-alat negara ialah sekolah, media, lembaga-lembaga masyarakat. Alat-alat negara tersebut merupakan jalan untuk menjalankan kekuasaan secara sadar agar ideologi yang yang diinginkan negara diakui oleh masyakarat sebagai norma. Setelah tahap dominasi terjadi tahap yang selanjutnya adalah pengarahan. Masyarakat tinggal diarahkan agar tunduk dan patuh pada kepemimpinan oleh kelas yang mendominasi. Apabila ada yang melanggar hegemoni maka akan dapat dianggap sebagai tindakan pelanggaran norma yang dapat dikenakan hukuman.
Dalam hal ini jika diimplementasikan dengan keadaan di Indonesia maka pemerintah menjadi kelas pendominasi yang mendominasi masyarakat dengan aturan-aturan atau hukum yang ada serta menerapkan ideologi Pancasila. Tahap dominasi yang dilakukan oleh pemerintah bersifat sadar karena dalam menghegomi masyarakat agar mengakui dan mengikuti ideologi Pancasila dilakukan dengan menggunakan alat-alat pemerintah seperti sekolah. Juga dalam tahap pengarahannya pun di Indonesia sudah diterapkan bahwa untuk membuat peraturan harus merujuk pada Pancasila apabila ada pelanggaran yang dilakukan baik secara individu atau kelompok yang menyalahi aturan yang berlaku dalam Pancasila maka dapat dikenai hukuman sebagaimana yang berlaku.

Antonio Gramsci beranggapan bahwa jalan menuju sosialisme dapat dilakukan apabila kapitalis telah matang dan terjadi krisis hegemoni. Namun, pergerakan hanya dapat dilakukan apabila kaum prolektar memiliki pemahaman yang cukup dan mampu mengorganisiasi diri dengan baik untuk menentukan langkah selanjutnya. Apabila kaum prolektar masih didominasi oleh kaum Borjuis maka gerakan prolektar untuk mencapai hegemoni tidak akan tercapai.

Sejalan dengan hal tersebut. Saat ini banyak elemen masyarakat baik dari pihak buruh sendiri atau kaum akademisi sudah memiliki kesadaran tentang berbagai kebijakan yang ada selama ini. Wacana kebijakan yang terbaru saat ini ialah Omnibus Law yang di dalamnya terdapat RUU Cipta Kerja yang banyak ditolak oleh masyakarat. 
Beberapa alasan ditolaknya RUU Cipta Kerja oleh buruh ialah :
a.   Ketidakjelasan asal dan pembuat RUU Cipta Kerja.
b. Terdapat beberapa pasal-pasal yang tidak berhubungan langsung dengan buruh tetapi tetap dianggap merugikan. Contohnya adalah pasal yang mengizinkan untuk menyewa tanah selama 90 tahun. Jelas ketentuan ini malah semakin Mundur dari zaman kolonial yang maksimal menyewa selama 40 tahun dan saat zaman demokrasi malah 90 tahun.
c. Hilangnya Upah Minimum Kabutapen (UMK) dan diganti dengan Upah Minimum Provinsi sebagai satu-satunya patokan besar dalam menentukan gaji. Jika hal ini dilakukan tentunya akan merugikan pekerja yang selama ini mendapat upah dengan patokan UMK karena besaran UMP tidaklah lebih besar dari UMK. Ditambah kebijakan pemerintah yang sering menaikan biaya atau penghapusan subsidi seperti kenaikan BPJS, kenaikan listrik akan menjadikan masyarakat semakin tidak karuan dengan kondisi ekonomi mereka.
d. Sanksi pidana bagi perusahaan yang melanggar akan dihilangkan. Dalam Omnibus Law akan menggunakan basis hukum administratif, jadi apabila ada perusahaan yang melanggar aturan hanya akan dikenakan denda.
e. Besaran pesangon yang diberikan perusahaan pada karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan turun dan tanpa kepastian karena pemerintah menganggap peraturan lama tidak implementatif.

Itu tadi merupakan contoh dari sebab kenapa banyak pihak terutama buruh menolak di-sahkannya RUU Cipta Kerja. Menilai dari contoh pasal tersebut tentunya sangat merugikan buruh. Buruh yang selama ini hidup dalam kelas sosial konomi menengah kebawah jelas sebelum RUU Cipta Kerja di sahkan sudah mengalami kesulitan ekonomi. Ditambah dengan peraturan pemerintah yang saat ini menaikkan iuran BPJS ditengah masa Covid-19 yang juga melumpuhkan ekonomi masyarakat semakin membuat kaum buruh merasa kesulitan secara ekonomi. Jika masyakarat benar-benar akan mengesahkan RUU Cipta Kerja tersebut jelas masyakarat akan marah karena mereka merasa bahwa nanti tingkat kesejahteraan mereka secara ekonomi akan menurun mereka akan merasa bahwa semakin hari tidak semakin mapan tapi malah semakin miskin. Jika hal tersebut benar-benar terjadi tidak akan menutup kemungkinan demo dari berbagai sektor masyarakat tidak hanya dari kalangan buruh tapi bisa juga dari masyakarat netral yang bukan buruh seperti mahasiswa. Alasan terbesar bagi mahasiswa untuk menolak adanya RUU tersebut adalah karena peran mahasiswa sebagai agent of change, yaitu sebagai perencana, pelaksana, dan perealisasi suatu rencana sebagai bentuk tanggung jawab kemasyarakatan. Mahasiswa akan bertindak sebagai agent of change apabila dirasa ada peraturan yang tidak berpihak atau merugikan masyakarat sipil.

Tetapi dalam teori Gramsci juga disebutkan bahwa agar kaum pekerja dapat menjadi kaum hegemoni mereka tidak boleh hanya berfokus pada kepentingan mereka semata. Mereka juga harus memperhatikan kepentingan kelompok sosial lainnya lalu mempertemukan kepentingan kelompok sosial lainnya tersebut dengan kepentingan mereka sendiri. Dalam hal ini jika diimplementasikan pada kasus RUU Cipta Kerja. Para buruh akan berhasil mencapai tujuan mereka yaitu mendesak DPR untuk membatalkan pengesahan RUU Cipta Kerja jika kaum buruh juga bekerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan lainnya. 
Dalam hal ini buruh dapat bekerja sama dengan Pengusaha. Karena dalam RUU Cipta Kerja walaupun lebih banyak merugikan buruh tetapi ada beberapa pasal yang dirasa juga merugikan pengusaha. Lalu elemen mahasiswa yang berperan besar dalam tatanan masyarakat karena peran mereka sebagai agent of Change tentunya akan memiliki dampak yang besar. Dan apabila kerja sama antar elemen masyarakat tersebut sudah terjadi kemudian dihubungkan dengan pandemi Covid-19 yang saat ini terjadi tentunya peluang untuk berhasil akan lebih tinggi.
 _________________________________________________________________________________
Sumber :
https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20200214065609-92-474480/bonus-5-kali-gaji-kesenangan-semu-buruh-dan-derita-pengusaha

https://www.suaradewata.com/read/202001310002/omnibus-law-memberikan-manfaat-bagi-kelompok-buruh.html

https://kumparan.com/guru-bangsa/10-sengketa-investasi-indonesia-di-arbitrase-isds-kilas-balik-1552829931098223337

https://amp.kompas.com/nasional/read/2019/09/25/10382471/ini-26-poin-dari-uu-kpk-hasil-revisi-yang-berisiko-melemahkan-kpk

https://nasional.tempo.co/read/1307814/5-aturan-omnibus-law-cipta-kerja-yang-dianggap-rugikan-pekerja

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51661671

https://nasional.kompas.com/read/2020/03/06/07360811/omnibus-law-ruu-cipta-kerja-antara-kepentingan-investor-dan-perbudakan?page=2

https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4987950/ini-yang-bikin-buruh-ngotot-tolak-ruu-cipta-kerja

https://sansigner.wordpress.com/2008/05/09/negara-dan-masyarakat-sipil-perspektif-hegel-marx-dan-gramsci/

https://m.liputan6.com/bisnis/read/4180341/profesi-perawat-paling-terdampak-ruu-omnibus-law-
cipta-kerja

https://m.mediaindonesia.com/read/detail/290407-duh-pekerja-sektor-farmasi-kesehatan-merasa-terancam-omnibus-law

https://m.liputan6.com/bisnis/read/4184998/ada-omnibus-law-jam-kerja-buruh-bakal-dieksploitasi

https://www.google.com/amp/s/mataram.tribunnews.com/amp/2020/05/15/tak-cuma-biaya-iuran-yang-naik-denda-jika-nunggak-bayar-bpjs-kesehatan-juga-dinaikkan-5-persen

https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/mengapa-buruh-menolak-ruu-cipta-lapangan-kerja-eszH

https://www.google.com/amp/s/katadata.co.id/amp/berita/2020/02/16/9-alasan-organisasi-buruh-tolak-omnibus-law-cipta-kerja

https://m.detik.com/news/berita/d-4933863/membaca-lagi-6-alasan-menolak-omnibus-law-ruu-cipta-kerja/2

https://nasional.tempo.co/amp/1334213/ini-alasan-buruh-tetap-aksi-tolak-ruu-cipta-kerja-pada-30-april

https://www.google.com/amp/s/katadata.co.id/amp/telaah/2020/02/16/untung-rugi-bonus-lima-kali-gaji-di-omnibus-law

http://www.casagramscighilarza.org/posts/2018/06/27/siapa-itu-antonio-gramsci/

https://www.google.com/amp/s/www.kompasiana.com/amp/aldiandrew/antonio-gramsci-teori-hegemoni_550e0be7813311882cbc611b Saptono (Dosen PS Seni Karawitan). Teori Hegemoni Sebuah Teori Kebudayaan Kontemporer.



Wednesday, May 20, 2020

Diskusi Online Psikologi PK IMM Al-Ghozali & PK IMM Psikologi UMP

DISKUSI PSIKOLOGI
Pengaruh Covid-19 Terhadap Kecemasan dan Psikosomatis


Diskusi online psikologi ini di laksanakan pada hari minggu, tanggal 29 Maret 2020 yang di selenggarakan secara daring melalui Whatsapp Group. Diskusi ini pematerinya ada dua dengan sudut pandang yang berbeda dalam pembahasannya, yaitu pemateri 1 membahas pengaruh covid-19 terhadap kecemasan dan pemateri 2 membahas pengaruh covid-19 terhadap psikosomatis. Pemateri satu, yaitu Gisella Arnis Grafiyana, S.Psi., M.A. sebagai dosen psikologi di Universitas Muhammadiyah Purwokerto sedangkan pemateri dua, yaitu Ajeng Nova Dumpratiwi, S.Psi., M.Psi., Psikolog . sebagai dosen psikologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Panitia diskusi online psikologi ini dari Bidang Media dan Komunikasi PK IMM Al-Ghozali dan PK IMM Psikologi UMP, dengan ini kita saling bekerja sama demi kelancaran kegiatan tersebut dan sekaligus memperkuat hubungan silahturahim.

Berikut notulensi yang kami dapat dari diskusi :

1. Kecemasan
           Kemungkinan munculnya kecemasan diakibatkan dari pandemik covid-19 yang sampai saat ini belum mereda. Pertama kita perlu memahami betul pandemik yang sekarang mewabah ini minimal dari cara penularan, pencegahan, dan penanganan jika terpapar atau terindikasi terkena virus tersebut. Untuk mendapatkan informasi yang valid dan menghindari kesimpangsiuran, selalu usahakan mencari informasi dari sumber terpercaya (siapa yang memberikan informasi dan sumber informasi).

Setelah mendapatkan informasi saya yakin tidak sedikit dari kita yang kemudian menjadi takut untuk berinteraksi di luar dan lebih banyak memikirkan hal negatif jika terdapat simtom yang mirip dengan informasi yang didapat. Hal itu wajar, tetapi ingat, penting sekali untuk tidak memperburuk keadaan dengan mengembangkan pikiran dan perasaan negatif itu sendiri, sekarang banyak sekali media yang menyediakan teman-teman yang merasa kondisinya kurang baik dan curiga terhadap virus tsb dengan menanyakan kepada ahlinya.

Oke sampai sini bisa dipahami ternyata kondisi cemas terhadap pandemik ini adalah respon yang normal. Lalu, cemas sendiri itu apa?
Cemas adalah perasaan samar-samar, rasa yang tidak mudah untuk merasakan bahaya di masa yang akan datang.
Gejala gangguan kecemasan umum meliputi :
             Merasa gelisah, lelah, atau tegang
             Menjadi mudah lelah
             Memiliki kesulitan berkonsentrasi; pikiran menjadi kosong
             Menjadi mudah tersinggung
             Memiliki ketegangan otot
             Kesulitan mengendalikan perasaan khawatir

Jika intensitas dan frekuensi berlangsung simtom tidak berhenti selama 1 pekan penuh, bisa menghubungi psikolog secara online (untuk saat ini) untuk meminta pertolongan.
Secara psikologis dianggap wajar jika dalam intensitas yang normal, karena kecemasan merupakan tanda alarm yang memperingatkan kita bahwa bahaya sudah dekat dan membangkitkan kita untuk meresponnya secara tepat.

Kecemasan taraf ringan-sedang : menstimulasi individu menjadi lebih waspada dan resposif pada situasi yang membutuhkan perhatian lebih (fascilitating anxiety).
Kecemasan yang berlebihan: memperburuk performa kita (debilitating anxiety).
Kecemasan bisa berkembangan dari tekanan/stressor  yang dialami selama wabah berlangsung:
1)            Takut dan khawatir tentang kesehatan diri sendiri dan kesehatan orang yang dicintai
2)            Perubahan pola tidur atau makan
3)            Sulit tidur atau berkonsentrasi
4)            Memburuknya masalah kesehatan kronis
5)            Peningkatan penggunaan alkohol, tembakau , atau obat-obatan lainnya
6)            Rutinitas sehari-hari yang terganggu karena harus isolasi diri di rumah

Lalu yang bisa dilakukan untuk bisa mengurangi kecemasan yang mungkin muncul akibat pandemik covid ini?
  Batasi diri dari berselancar terkait berita pandemik covid-19. Mendengar tentang pandemi itu berulang kali bisa membuat kesal.
   Jaga imun tubuh dengan teratur mengkonsumsi makanan dan minuman dengan kandungan yang meningkatkan imun, olahraga dan tetap usahakan tubuh terpapar sinar matahari. Lakukan relaksasi jika merasa penat dengan dengan kondisi di sekitar, atur pola tidur, hindari perilaku tidak sehari seperti minum alkohol, merokok, dan mengkonsumsi obat berlebihan.
   Luangkan waktu untuk relaksasi dan bersantai tanpa memikirkan beban kerja maupun kuliah, dan temukan hobi serta hal baru yang selama ini belum pernah dilakukan.
•  Tetap berusaha berkomunikasi dengan orang lain. Berbicaralah dengan orang yang dipercayai tentang kekhawatiran dan bagaimana perasaan dialami.

2. Psikosomatis
            Kita semua mengetahui bahwa saat ini Allah sedang menguji kita dengan pandemi Covid-19. Banyak sekali dampak dari hal tersebut, ekonomi, fisik, dan khususnya psikologis. Seperti yang akan kita diskusikan lebih lanjut pada kesempatan kali ini. Oke, baiklah mengakui atau tidak, sadar atau tidak sadar, pasti sebagian dari teman-teman semua merasakan kecemasan ya terkait keadaan ini, apapun itu yang dipikirkan tentang covid-19 pasti ada rasa cemas yang muncul. Wajar kita merasa cemas seperti ulasan selanjutnya terutama ketika menghadapi keadaan yang tidak pernah ita inginkan seperti ini. selain cemas kira-kira apalagi dampak dari pandemi ini terkait kondisi psikis kita?
Semua tegangan tegangan psikis yang muncul atau energi negatif yang muncul, seperti cemas, dsb akanbeprengaruh juga terhadap kesehatan fisik. Jika dalam dunia Psikologi dikenal sebagai gangguan Somatoform, dalam kesempatan kali ini kita akan bahas lebih fokus ke bagian Psikosomatis. Biasanya orang awam bahka kita sering terbalik antara somatisasi dan psikosomatis.  Saya akan membantu teman-teman membedakan keduanya agar dalam pembahasan materi sudah memiliki satu sudut pandang sama. Untuk somatisasi itu fisik mempengaruhi psikis (fis-psi). Sedangkan psikosomatis (psi-fisik).

Psikosomatis sendiri muncul akibat ketegangan psikis yg muncul ketika kita menghadapi situasi yg mengancam atau situasi yg tidak nyaman. Secara fungsi tubuh tekanan ini akan memerintahkan otak memproduksi hormon dimana akan berefek pada kondisi fisik. Lalu seperti apa cirinya yg mudah diketahui: nyeri, gatal2, pusing, sakit perut, sesak nafas, dan berbagai keluhan lain.


Contoh sederhana: Ketika teman-teman akan menghadapi UAS tp blm belajar, bagaimana perasaannya? Cemas, stress, tertekan, terancam. Pernah tidak merasa jadi ingin sering buang air, sakit perut, sakit kepala, demam. Tapi ketika selesai UAS fisik kembali normal. Itu adalah contoh psikosomatis yg sering muncul.

Biasanya orang-orang psikosomatis akan mencari konfirmasi dari lingkungan luar terhadap keluhannya. Untuk diingat GANGGUAN FISIK YANG MUNCUL TIDAK BISA DIJELASKAN SECARA MEDIS, mudahnya adalah ketika di periksa tidak ada gangguan fisik.

Situasi kita saat ini ditengah pandemi corona pasti membuat kita tidak nyaman. Terkadang membaca berita, membaca gejala2 awal corona tiba tiba tenggorokan kita gatal kemudian batuk, kita pusing, suhu badan kita meningkat. Kemudian di pikiran muncul "lho kok skrg fisikku sama sot gejala org yg terinfeksi covid 19". Nah tunggu dulu mungkin itu psikosomatis.

Obatnya apa dong psikosomatis? Obatnya diri kita sendiri, mengendalikan pikiran, emosi, dan sikap untuk tetap terkontrol dalam menghadapi suatu ancaman (sekarang : covid 19).

Tuesday, March 31, 2020

Forum Kader Online #1


Forum Kader Online #1

Forum kader(Forkad) online merupakan program follow up dari Bidang Kader setelah dilaksanakannya DAD PK IMM Al-Ghozali tahun 2019 bulan Desember lalu. Forkad online diadakan dengan tujuan sebagai wadah diskusi kader-kader baru agar senantiasa berpikir kritis terhadap gerakan dan membawa solusi lebih baik di masa yang akan datang.

       
Forum kader yang berbentuk diskusi online kali ini, bertemakan “Sebaik-baik Kader dalam Kemelut Zaman” yang kemudian dipantik oleh kader baru IMM Al-Ghozali, yaitu IMMawan Dite Adi P dan IMMawati Alvanindya Nafik. Sebenarnya, forum kader kali ini memiliki tajuk “Sudut Pandang”. Artinya, setiap opini di sini adalah penting, dan setiap persepsi adalah berharga. Forum ini dimulai dari membedah sudut pandang kedua pemantik terkait tema, yang kemudian memantik kader-kader lain untuk mengemukakan sudut pandang masing-masing.

Pada awalnya, IMMawan Dite dan IMMawati Alva memaparkan realita kader saat ini. Menurut mereka keadaan saat ini kurang lebih digambarkan “Dimana akal lebih penting dari moral, eksistensi melebihi esensi, memilih tanpa memilah, percaya tanpa berpikir panjang dan akhlak serta ajaran islam yang mungkin tak lagi menjadi tempat berpijak.  Kondisi dimana  dunia digital pesat berkembang, orang-orang lebih mudah mempengaruhi publik dengan cara menomorsatukan sensasionalitas dan menggerakan emosionalitas. Publik lebih tertarik dengan kehebohan berita dan lebih mudah terpengaruh dengan berita-berita yang menyentuh perasaan”. Maka sebaik-baik kader adalah mereka yang kembali meluruskan niat dan tujuan , memiliki nilai dasar , serta mereka yang menjalankan setiap kegiatan dengan rasa ikhlas dan mengharap ridho dari-Nya. Pun dalam dunia daring, sebagai kader juga harus mampu membedakan informasi yang benar dan informasi yang salah agar selalu dapat menjadi bijak dalam bermedia. Seperti kutipan terakhir dari moderator, “Jadilah kader yang sudah bijak sejak dalam pikiran”.

Oleh : IMMawan Yasma Hidayat

Ketua Umum PK IMM Al-Ghozali