Thursday, September 08, 2022

Opini Pelecehan Seksual dalam lingkup Universitas Muhammadiyah Surakarta

Tinggal sendiri nan jauh dari pengawasan orang tua, di tuntut mandiri dan mendapatkan hasil yang baik dalam menjalankan kuliah guna memenuhi harapan dari rumah. Kurang lebih seperti itulah garis besar kondisi mahasiswa yang sedang menempuh kuliah sambil menjalani dunia dewasa yang lebih berat. Membahas mengenai pelecehan seksual dalam lingkup UMS tentu mencakup beberapa hal apa yang ingin dibahas, karena dasarnya pelaku kegiatannya juga cukup beragam dengan consent yang sangat bias untuk sekardar kita kira-kira. Anggaplah opini ini mengandung keraguan, karena untuk mengungkapkan opini mengenai topik yang cukup sensitif seperti ini dibutuhkan keyakinan dan mengetahui secara pasti seperti apa dan bagaimana kondisi pelecehan tersebut bisa terjadi.

Mari membahas secara umum terlebih dahulu, dengan informasi yang didapat masih tergolong bias dan tidak lengkap dan mengaitkan dengan keislaman yang menjadi dasar bagi Muhammadiyah.

Dasarnya keseluruhan dari masyarakat Muhammadiyah harusnya sudah menerapkan prinsip keislaman Muhammadiyah itu sendiri, namun dalam cakupan universitas yang bersifat heterogen dengan berbagai macam orang dan karakter tentu ga bisa di pastikan keseluruhannya memegang prinsip tersebut. Mahasiswa yang biasanya berfokus pada hasil perkuliahan meskipun mengikuti kegiatan yang berdasar Muhammadiyah juga mempunyai kehidupan bebasnya di luar kegiatan kuliah, kegiatan di luar lingkup kuliah ini yang tidak bisa kontrol apakah setiap mahasiswa betul-betul memegang prinsip Muhammadiyah atau tidak. Dosen, untuk setiap pengajar Universitas Muhammadiyah Surakarta harusnya sudah di bekali atau didasari prinsip keislaman dan aturan kemuhamadiyahan, seperti kegiatan pengajian untuk pengajar Muhammadiyah atau kegiatan-kegiatan yang bisa mengikatan ukhuwah di setiap pengajar dan menerapkan nilai kemuhammadiyahan, ini lah kenapa merupakan hal yang fatal dan serius apabila bahkan dari pengajar sudah melakukan suatu tindakan yang jauh diluar prinsip kemuhamadiyahan tersebut, seperti yang bisa kita lihat dari kasus pelecehan seksual di UMY, bedasarkan berita tersebut bahkan untuk muncul sekali saja sudah cukup keterlaluan dan diragukan bagaimana kemuhamdiyahan di terapkan dalam pengajarnya.

Pembahasan mengenai kegiatan seksual antar mahasiswa di lingkungan UMS meskipun dengan persetujuan kedua belah pihak, menurut saya sudah termasuk pelecehanan apabila kegiatan tersebut di lakukan di tempat umum, karena hal tersebut membuat lingkungan sekitar menjadi tidak nyaman dan kondusif, meskipun saya bilang kegiatan di luar perkulihan merupakan kebebasan yang tidak bisa kita kontrol namun pengabaian norma sekitar juga tidak bisa diabaikan. 

Sebenarnya dari pandangan saya pihak Universitas Muhammadiyah Surakarta sendiri sudah mencoba dan melakukan serangkaian kegiatan islam khusus yang diharapkan mahasiswa tau mengenai jati dirinya sebagai islam dan juga bagian dari Muhammadiyah dan menjauhi kegiatan-kegiatan di luar batas tersebut, seperti shobron, mentoring dan juga menjadi bagian dari mata kuliah belajar mahasiswa. Sebagai status mahasiswa yang sudah mempunyai kebebasan untuk memilih, pihak universitas juga tidak bisa mengontrol terlalu banyak dan melakukan pembinaan karakter seperti ketika di masa SD, SMP, dan SMA, selama 2 tahun juga dengan kendala pandemi baik dari dosen dan mahasiswa juga sulit untuk menjalin hubungan 2 pihak secara intensif dan erat. 

Itu pembahasan dari mahasiswa, lalu bagaimana dari sisi dosen? sama sekali tidak toleransi bagi seorang pengajar UMS untuk melakukan kegiatan yang melecehkan masyarakat lingkup UMS sendiri, bahkan diluar UMS pun harusnya sama, tidak perlu pembahasan lainnya lagi selain tidak ada diberi kesempatan kedua bagi pengajar Muhammadiyan yang seharusnya sudah merekat pada nilai-nilai keislaman muhammadiyah dan seharusnya pihak Muhammadiyah apabila tidak bisa mengotrol mahasiswa secara sepenuhnya karena banyaknya mahasiswa setidaknya pihan univ bisa mengontrol dari pengajarnya hingga akhirnya dari pengajarnya bisa membimbing mahasiswa secara lebih mendalam.

Baik dari lembaga mahasiswa dan Universitas Muhammadiyah Surakarta menurut saya sudah melakukan tindakan hukum yang baik sesuai dengan proses dan sistem yang berlaku, sebagaimana dengan kasus pelecehan seksual pada beberapa fakultas yang dilakukan oleh mahasiswa, baik dari lembaga mahasiswa dan pusat sudah melakukan proses yang baik bagaimana dilakukannya berbagai penyelidikan yang mendalam secara hati-hati sehingga penyampaian berita kepada mahasiswa tidak menimbulkan keributan atau kerugian yang lain dan menghukum pelaku sesuai dengan kondisi yang ada dan membimbing korban mendapatkan penyembuhan dan membimbing pelaku untuk tidak kembali melakukan hal yang serupa.


 Nama: Fahimah Muftiyatusholihah

Komisariat Al-Ghazali

Artikel Opini Pelecehan Seksual dalam lingkup Universitas Muhammadiyah Surakarta


Saturday, July 23, 2022

TONGKAT ESTAFET MUHAMMADIYAH DALAM KADER IMM


 AULIA FEGI LESTARI

B100210424

MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA



ABSTRAK

Artikel ini saya tulis guna untuk menjelaskan mengenai tongkat ekstafet Muhammadiyah dalam kader imm. Pendidikan kader merupakan upaya yang dilakukan oleh suatu organisasi untuk memperkuat kader nya dalam rangka merevitalisasi kader yang dimiliki . Kader disebuah organisasi diharapkan untuk terus menjalankan organisasi dalam mencapai suatu tujuan . Pendidikan kader sangat penting bagi suautu organisasi , karena tanpa Pendidikan kader maka suatu organisasi tidak akan kesulitan mencari orang yang mengembangkan organisasi .menyelenggarakan Pendidikan kader merupakan suatu keniscayaan ,dengan tidak adanya kader organisasi penerus akan berhenti dan akhirnya mati .

  1. PENDAHULUAN 

Ikatan mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi dibawah naungan Muhammadiyah yang dimana organisasi ini bertujuan untuk mengusahakan terbentunya akademisi islam yang berakhlak mulia guna mewujudkan tujuan Muhammadiyah. Dalam universitas Muhammadiyah Surakarta ,imm merupakan organisasi yang cukup banyak peminatnya bahkan di ums sendiri memiliki 12 komisariat dan komisariat tersebut berada dibawah dua cabang yaitu cabang Surakarta dan juga cabang sukoharjo. Kader dalam sebuah organisasi sangatlah penting ,karena kader dapat dikatakan sebagai inti pergerakan dalam suatu organisasi ,kader yang baik bagi sebuah organisasi yaitu kader yang berkualitas,kader yang mampu membagikan pemikirannya , dan kader yang mau berjuang untuk organisasi tersebut .

  1. ISI

Saat ini pendidikan kader IMM masih berjalan dalam universitas muhammadiyah surakarta , Pendidikan kader yang bertujuan untuk melahirkan generasi generasi baru yang mampu membawa perubahan ke ranah yang lebih baik tentunya harus memiliki persiapan yang matang. kader imm yang nantinya akan meneruskan tujuan organisasi harus memenuhi beberapa kriteria karena dalam sebuah kepemimpinan yang sehat akan ditopang oleh adanya kader kader yang qualified , selain itu  kaderlah yang akan menjadikan organisasi tersebut berkembang secara dinamis .

Sistem pengkaderan atau tuntutan bagi kader kader Muhammadiyah diberikan sejak awal kader tersebut bergabung dalam organisasi ikatan mahasiswa Muhammadiyah karena kader tersebut yang menjadi pelopor dan penerus dalam organisasi tersebut . kaderisasi menjadi program utama IMM guna mengingat tujuan Muhammadiyah sebagai gerakan islam. Keberadaan kader bukan hanya untuk keberlangsungan regenerasi tetapi juga untuk memperkuat barisan dakwah dan jihad yang terorganisir.

  1. KESIMPULAN

Kesimpulan yang saya ambil yaitu menjadi kader imm yang bertujuan untuk mewujudkan tujuan Muhammadiyah harus memiliki jiwa kepemimpinan ,terus berpegang teguh dalam visi dan misi Muhammadiyah, mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi dalam organisasi, karena kader yang akan menjadi penerus dan sebagai agent of cange dalam organisasi . bukan tentang apa yang kita dapat tetapi tentang apa yang kita beri sebagai anggota dalam sebuah organisasi


Thursday, July 21, 2022

Pemberdayaan Peran Perempuan Muhammadiyah



Akhir-akhir ini permasalahan kesetaraan gender sering menjadi perbincangan di kalangan masyarakat dan pelajar, persoalan sosial ini merujuk pada kriminalitas dan diskriminasi yang mana korbannya adalah kaum perempuan dan anak-anak. Muhammadiyah adalah salah satu organisasi Islam yang ikut andil dalam permasalahan sosial, contohnya pemberdayaan perempuan. Pemberdayaan perempuan adalah upaya untuk meningkatkan pembangunan berkembangnya kaum perempuan dalam segala aspek baik peran sosial, budaya, ekonomi, politik, bahkan aspek gender. Gerakan Aisyiyah memiliki program kerja yang khusus, strategis dan visioner, yaitu perempuan. Peranan dan fungsi perempuan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan sebab perempuan adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya. Pepatah mengatakan perempuan adalah tiang negara, apabila perempuannya baik maka negara akan makmur tetapi jika perempuannya baik maka negara akan hancur. Untuk mencapai tujuan gerakan ‘Aisyiyah perlu adanya program yang dapat membantu tercapainya tujuan tersebut, terutama untuk masyarakat kaum menengah ke bawah. Maka dari itu, ‘Aisyiyah dalam programnya berperan dalam membina, mendampingi, melatih ketenagakerjaan bahkan ikut berperan mengembangkan usaha rakyat dengan Program kerja Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah dan ini sudah terlaksana di salah satu kota di Yogyakarta yaitu kota Mergangsan. Disini terdiri dari beragam usaha industri rumahan seperti, cemilan, catering, kerajinan tangan, bahkan beberapa berbahan dasar dari limbah.

Kyai Ahmad Dahlan percaya bahwa pekerjaan yang besar tidak akan berhasil tanpa bantuan kaum perempuan, dan beliau juga berpesan pada kaum perempuan untuk tidak menjadikan urusan dapur sebagai penghalang dalam menjalankan tugas menghadapi permasalahan di masyarakat. Gender juga sering disebut dengan istilah jenis kelamin sosial. Perbedaan gender sebenarnya bukanlah menjadi masalah jika tidak dilahirkannya ketidakadilan gender, yang mana hal ini termanifestasi dalam bentuk ketidakadilan, yaitu stereotypesubordinationmarginalizationviolencedouble burden, dan sosialisasi peran gender. Berkesetaraan dan berkeadilan gender disini adalah dengan menanggapi dan mencari solusi terhadap isu-isu perempuan seperti KDRT, pengangguran, kemiskinan, trafficking, pornografi dan aksi, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial serta memberdayakan secara terprogram, terorganisir, dan memanfaatkan keseluruhan potensi yang ada. Model gerakan ‘Aisyiyah berbasis jamaah karena jamaah adalah bagian paling nyata dalam kehidupan di masyarakat, dengan berbentuk keluarga Sakinah dan Qaryah Thayyibah gerakan ‘Aisyiyah membangun kehidupan umat menjadi lebih baik dan menyesuaikan dengan perubahan sosial di era perkembangan kondisi masyarakat yang modern.

Sejak zaman dahulu yaitu yang tercatat di sejarah kenabian sejumlah perempuan banyak ikut andil bersama laki-laki dalam menghadapi persoalan di kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti istri-istri Nabi Muhammad yaitu Khadijah, Aisyah, Ummu Salamah dan istri nabi yang lain, Fatimah , Zainab dan Sukainah , mereka adalah beberapa orang perempuan yang ikut berdiskusi dalam permasalahan sosial, politik, ekonomi dan bahkan mengkritik kebijakan-kebijakan domestik serta publik yang patriarkis. Muhammadiyah memberi ruang yang cukup untuk kaum perempuan untuk mengambil peran di ranah publik, walaupun ada banyak hadits yang dilematis dan misogini seperti larangan untuk kaum wanita bepergian tanpa didampingi mahram, larangan kaum perempuan menjadi hakim, dan hadist misoginis lainnya yang telah dikontekstualisasikan dengan zaman modern dan kebebasan perempuan lebih leluasa seperti zaman sekarang, karena hambatan yang mengancam keamanan tidak separah zaman dahulu jadi untuk beraktivitas pun bisa lebih luas baik secara kehidupan sosial maupun kulturalnya. Selain ‘Aisyiyah ada juga organisasi otonom Nasyiatul Aisyiyah yang dikhususkan untuk putri Muhammadiyah yang mana terdiri dari beberapa cabang gerakan dakwah, sosial dan pendidikan diantaranya bergabung di Ikatan Pelajar Muhammadiyah , Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah , Hizbul Wathan , Tapak Suci Putri, dan lain sebagainya.

Dengan adanya sosialisasi wacana gender menumbuhkan cara berpikir yang baru bagi kaum perempuan bahwasanya perempuan dapat berperan juga baik dari segi pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Hal ini juga berfokus pada penekanan bahwa kekerasan terhadap perempuan harus diantisipasi sedini mungkin dan jika terjadi, maka korban harus segera mendapatkan solusi untuk pemulihan fisik dan psikis, dan juga menjamin keadilan untuk korban, adapun hal mengenai budaya patriarki bahwasanya ditegaskan bahwa perempuan juga memiliki hak kebebasan seperti halnya kaum laki-laki sehingga dapat menjadi bagian dari mitra pembangunan untuk bangsa, negara dan agama.

Sebagai organisasi putri Islam sudah menjadi tanggung jawab untuk melaksanakan pencerahan dan pemberdayaan perempuan untuk menuju masyarakat yang menjunjung tinggi harkat, martabat, dan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan ajaran agama Islam serta menyelenggarakan amal usaha guna mendukung dan meningkatkan peran Nasyiatul Aisyiyah sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah .
Maka dari itu, Muhammadiyah sangat berperan besar terhadap pemberdayaan kaum perempuan melalui organisasi, gerakan serta program-program kerjanya.




Daftar Pustaka

Abdullah, Amin M. 1995. Pendekatan Teologi: dalam memahami Muhammadiyah dalam kelompok Studi Lingkar (ed) Intelektualisme Muhammadiyah Menyongsong Era Baru. Bandung: Mizan dan KSL.

Aisyiyah N. 2016. Tanfidz Keputusan Muktamar Nasyiatul Aisyiyah Ke XIII.  Yogyakarta: Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah.  

Asri, Via Nesfa. 2017. Makalah: Muhammadiyah dan Pemberdayaan Perempuan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Muhammadiyah Pringsewu. 

Diwanti, Dyah Pikanthi. 2019. Pemberdayaan Perempuan Melalui Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah (BUEKA). Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial. 6(2): 194- 206.

Mosse, Julia Cleves. 1996. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tafsir, makalah: Pandangan Muhammadiyah Tentang Perempuan

Umar U, Mahmudah H, Jayanti MI. 2021. Peran nasyiatul aisyiyah dalam wacana gender dan pendidikan profetik bagi perempuan di bima. Kafaah: Jurnal Studi Gender. 11(1): 15-26.


Oleh      : Resza Rigian Adi Pratama

NIM : L200210147

Komisariat : Adam Malik

Tuesday, July 19, 2022

GERAKAN MAHASISWA MENURUT MUHAMMADIYAH

 



  1. Pendahuluan

Dengan kapasitas intelektual dan dialektika yang mumpuni, mahasiswa menjadi sosok penting dibalik pergerakan sebuah bangsa. Sudah tidak menjadi rahasia umum bahwa mahasiswa menjadi pionir utama dalam berbagai pergerakan yang ada. Tercatat pada tahun 1998 ketika kediktatoroan Soeharto yang mengharapkan dirinya menjadi presiden seumur hidup, mahasiswalah yang menuntut Soeharto untuk turun dari singgasana kekuasaannya sebagai presiden. Inilah mengapa mahasiswa disebut sebagai kritis idealis dalam berkehidupan.

Sementara Muhammadiyah memiliki organisasi otonom IMM yang fokus terhadap pergerakan mahasiswa Muhammadiyah. Oleh karena itu, urgensi pembentukan makalah ini untuk membahas bagaimana lazimnya pergerakan mahasiswa sesuai Muhammadiyah.

  1. Isi

Indonesia sebagai negara berideologi demokratis dengan inti ajarannya dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat menjadikannya memiliki beberapa konskuensi mendasar diantaranya adalah rakyat ikut andil dalam setiap keputusan yang dibuat oleh pihak konstitusi yang berwenang di bidangnya. Sehingga jika ada kebijakan-kebijakan yang dinilai kurang pas atau bahkan melenceng maka tugas rakyatlah yang harus meluruskan kekeliruan itu. Sebagaimana Value Add Theory mengatakan bahwa gerakan sosial terjadi karena ketegangan masyarakat akibat tidak terpenuhinya suatu fenomena.

Lantas mengapa mahasiswa yang sering menjadi pemeran utama dalam pergerakan ini?. Jawabannya karena di pundak mahasiswa terbebani  tridharma perguruan tinggi pengabdian kepada masyarakat. Dan bentuk pengabdian tidak harus bersifat formal seperti loka karya, penyuluhan, dan sejenisnya. Namun pengabdian disini lebih ditekankan kepada pergerakan sosial seperti kampanye dan demonstrasi kebijakan.

Sebagai mahasiswa Muhammadiyah yang berkumpul dalam satu wadah organisasi bernama IMM, kita harus memiliki landasan dasar untuk berpacu dalam berbagai aksi kolektif. Sebut saja ciri IMM yang tertuang dalam Enam Penegasan IMM yaitu bahwa IMM adalah gerakan  mahasiswa Islam, dan kepribadian Muhammadiyah adalah landsan perjuangan IMM.

Berbekal dua penegasan diatas, telah jelas bahwa pergerakan mahasiswa Muhammadiyah harus sejalan dengan ideologi muhammadiyah sebagai ibu kandung dari IMM itu sendiri. Ditambah lagi pergerakan IMM harus sesuai syariat Islam yang telah ditetapkan oleh Al-quran dan As-sunnah.

Selain itu masih ada lagi landasan dasar pergerakan mahasiswa Muhammadiyah yaitu Trilogi IMM dan Tri Kompetensi dasar IMM. Dalam Trilogi IMM ada satu poin yang ditujukan khusus kepada permasalahan kemasyarakatan. Trilogi IMM ini sangat penting karena merupakan pondasi gerakan IMM yang merupakan arah gerakan yang memiliki ciri khas sekaligus sebagai identitas IMM dalam menjalankan roda pergerakan organisasi. Oleh karena itu, mengimplementasikan Trilogi IMM diharapkan dapat menjadi dasar-dasar mahasiswa Muhammadiyah dalam melakukan pergerakan sehingga tidak melenceng dan disusupi pihak ketiga dalam melakukan pergerakan di tengah masyarakat Indonesia ini 


  1. Penutup

Dengan adanya Al-Quran, As-Sunnah, Trilogi IMM, Tri Kompetensi Dasar, dan Enam Penegasan IMM yang menjadi dasar pergerakan mahasiswa Muhammadiyah diharapkan mampu menjadi acuan mahasiswa dalam menjalankan pergerakan atau aksi kolektif. Sehingga aspirasi dapat tersampaikan dengan damai dengan mengedepankan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan yang sesuai dengan ideologi Indonesia yaitu Pancasila.

Oleh : IRHAM ZULFIKAR AHMAD

Sunday, July 17, 2022

PERAN KADER IMM UNTUK MUHAMMADIYAH YANG BERKEMAJUAN

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian dari Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi. Namun, istilah mahasiswa sendiri didefinisikan sebagai struktur yang memiliki beberapa peran penting, salah satunya adalah agen of change. Sebagai agen of change atau agen perubahan, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan intelektual sehingga bisa menjadi kekuatan moral bangsa, dan mampu memepengaruhi perubahan sosial. 


Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan, juga mempunyai sebuah organisasi yang anggotanya merupakan mahasiswa-mahasiswa Muhammadiyah, bernama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang merupakan salah satu bentuk ikatan mahasiswa yang juga memiliki peran strategis sebagai agen of change untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang baik. Sejak awal berdirinya pada tanggal 14 Maret 1964 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dalam setiap gerakannya selalu fokus pada perannya sebagai agen of change, yaitu menjadikan intelektual sebagai dasar dari gerakannya, dengan melalui gerakan dakwah di kalangan mahasiswa, yang bertujuan untuk membentuk kader yang mampu berdakwah secara amar ma’ruf nahi mungkar.

Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang dipelopori oleh Djazman AL-Kindi merupakan organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak dalam dalam bidang kemahasiswaan ini tujuan utamanya adalah mengusahakan terbentuknya Akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam mencapai tujuan Muhammadiyah. Sebagai akademisi IMM menerapkan sebuah gerakan berbasis kaum intelektual yang melek akan keadaan dan realitas sosial. Sebagai seorang yang berintelektual sudah menjadi kewajiban kader dalam memahami persoalan-persoalan di sosial Apabila seorang kaum intelektual tidak mampu memahami persoalan yang dihadapai tentu itu patut untuk dipertanyakan, sudah sepatutnya seorang intelektual satu dengan yang lain saling bersinergi,

Era Globalisasi merupakan momentum bebas bagi siapa saja yang ingin bertindak, tetapi tentunya tetap ada aturan yang berlaku. Melihat kondisi tersebut, tentu memaksa kita untuk terus bertindak dan berproses agar tidak ketinggalan oleh yang lainnya. Era Globalisasi ini membuka peluang bagi siapa saja yang ingin berkiprah di tingkat nasional maupun internasional, tentu hal ini juga memberikan peluang sekaligus tantangan bagi Persyarikatan Muhammadiyah. Akan terjadi perubahan luar biasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan, sosial, politik, ekonomi, hukum, dan lingkungan hidup. Perubahan-perubahan tersebut akan berdampak luar biasa dan kemungkinan besar dapat mengubah pola berpikir dan pandangan. Sejauh mana peran kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi ortonom Muhammadiyah dalam merespon, memahami dan menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi.

Tentu di era globalisasi ini Muhammadiyah sebagai organisasi besar juga ingin ikut berkembang dan maju mengikuti perkembangan, berjalan sesuai arus perubahan, dan menjadi Muhammadiyah yang berkemajuan. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang memiliki identitas kepribadian Muhammadiyah juga dipaksa mengikuti kemana induknya berjalan. Mengingat kader yang menjadi ‘prajurit’ dari IMM juga dituntut perannya untuk menuju Muhammadiyah yang berkemajuan. Peran kader ini tidak lepas dari identitas Muhammadiyah dan IMM yaitu akademisi yang berintelektual dan berakhlak mulia. Bagi Muhammadiyah yang berkemajuan, kader ikatan perannya sangat dibutuhkan. Dalam mengemban dakwah Muhammadiyah, IMM terdapat Tri Kompetensi Dasar yang memiliki peran besar bagi pergerakan IMM, yaitu Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas. Kunci menghadapi perkembangan zaman dan menjawab tantangan terdapat di Tri Kompetensi Dasar IMM. Tri Kompetensi Dasar ini merupakan resep yang sempurna sebagai kader IMM untuk Muhammadiyah yang berkemajuan.


Oleh : Rahmanida Ulhaq Anindita

Friday, July 15, 2022

PERAN MUHAMMADIYAH DAN IMM DI ERA DISRUPSI


Era disrupsi merupakan era yang hidup sejak abad ke-20 dimulai. Era disrupsi yang ada pada zaman sekarang adalah era yang juga ada bersamaan dengan globalisasi dan modernisasi di mana tuntutan menjadi manusia atau individu pada zaman ini mewajibkan secara universal untuk memiliki sifat inovatif. Era disrupsi yang ada sekarang merupakan era di mana terjadinya inovasi besar-besaran pada segala bidang.

Tidak hanya inovasi, tetapi juga perubahan-perubahan masif yang terus berkembang seiring berjalannya waktu. 

Gejolak pada perubahan-perubahan ini seringkali menimbulkan kekhawatiran akan berubahnya sikap maupun peranan baik individu ataupun alam. Hal ini seringkali ditakutkan apabila manusia akan melenceng dari ajaran yang benar, karena perubahan selalu menimbulkan pro dan kontra. Ditambah, pada zaman globalisasi ini perubahan atau apapun sesuatu asing atau hal baru yang masuk seringkali tidak bisa disaring terlebih dahulu atau tidak terelakkan, sebab informasi yang keluar masuk bisa diakses dengan sekejap mata.

IMM sebagai wadah gerakan muda Muhammadiyah yang digalakkan oleh mahasiswa seluruh Indonesia. IMM sebagai tombak muda dengan cita-cita Muhammadiyah setuju bahwa era disrupsi merupakan hal yang tidak terelakkan. Maka dari itu, IMM yakin bahwa untuk menyikapinya ialah dengan cara pendekatan baru karena perubahan sosial sudah terjadi di masyarakat.

Jalur utama mengalirnya segala macam momok yang dibawa oleh era disrupsi ialah jalur digital, di mana pada saat yang bersamaan potret kehidupan mahasiswa sebagai anak muda tidak pernah lepas pada digitalisme. Oleh karena itu, mahasiswa-mahasiswa sebagai anggota IMM dianggap sudah pasti terpapar momok-momok yang dibawa oleh era disrupsi.

Maka dari itu, IMM setuju untuk mengambil tindakan untuk peranan mereka sebagai ikatan mahasiswa dengan cita-cita Muhammadiyah untuk menjadi komunikator dan kolaborator untuk menyaring, mempelajari, serta mengkaji hal-hal baru atau perubahan yang masuk di era disrupsi untuk diseleksi dan diinformasikan kepada masyarakat sebagai komunikan, terutama yang memiliki cita-cita yang sama dalam lingkup Muhammadiyah untuk bijak dalam mengambil sikap dan mencontoh mana yang bisa dan sesuai dengan ajaran serta budaya.

Kemudian Muhammadiyah sendiri sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki ide dan gagasan sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW. turut serta mengambil peranan dan tindakan dalam menghadapi era disrupsi.

Peranan yang diambil oleh Muhammadiyah sendiri tidak jauh berbeda dengan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yakni menjadi komunikator setelah meyaring, mengkaji, dan mempelajari informasi serta inovasi baru yang masuk untuk disampaikan kepada masyarakat sebagai komunikan sekiranya lebih bijaksana dalam memilih sikap dan mencontoh mana yang bisa diambil.

Menuurt apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Dadang Kahmad, MA yang berstatus sebagai KPP (Ketua Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, Muhammadiyah tentunya harus merespon perubahan untuk memberikan reaksi bagaimana perubahan tersebut bekerja kepada mereka dan Muhammadiyah diharapkan untuk memiliki minimal 3 hal dalam menghadapi era disrupsi, yakni: antisipasi di mana masyarakat harus memberikan respons terhadap perubahan, adaptasi masyarakat harus mulai membiasakan diri dengan perubahan yang sudah dipilih untuk memastikan apakah itu baik atau buruk, dan inovasi yaitu masyarakat mampu mengolah perubahan menjadi suatu hal yang baru kembali. 

Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa baik peranan IMM maupun Muhammadiyah sendiri secara garis besar ialah menjadi komunikator kepada masyarakat untuk menyikapi perubahan di era disrupsi.



Oleh :  Andhika Putra Wardana

NIM   : L200210166

Prodi : Informatika


Wednesday, July 13, 2022

Gerakan Muhammadiyah Dulu dan Sekarang


Gerakan Muhammadiyah dikenal dengan gerakan tajdid (pembaruan) yang bersifat moderat. Organisasi Muhammadiyah bergerak baik fisik maupun non fisik berbasis non-politik, dengan pemikiran-pemikiran dan amal-amal usahanya menggunakan teologi Al-Maun agar terkesan lentur dan tidak kaku dalam mensyiarkan agama Islam. KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1912 yang memiliki cita-cita yang pertama, ingin Muhammadiyah menjadi gerakan Islam yang dakwah amar ma’ruf nahi munkar, Islam bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits, umat Islam Indonesia dapat menjadikan Nabi Muhammad SAW suri tauladan yaitu cara hidup beragama, baik tauhid, akhlak dan muamalahnya. Kedua, Muhammadiyah dapat mempersatukan umat Islam dengan segala keberagaman yang ada di Indonesia. Ketiga, dengan Muhammadiyah menjadi wadah umat Islam di Indonesia dapat mengorbankan harta, tenaga, pikiran, untuk kemajuan dan kesejahteraan agama Islam. Dimana ketiga cita-cita ini dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam demi terwujudnya izzul Islam wal muslimin, kemuliaan hidup sebagai realita dan kesejahteraan Islam ada idealitas.


KH Ahmad Dahlan memiliki keyakinan bahwa jika syariat Islam dijalankan dengan baik dan benar di Indonesia, maka bangsa ini tidak mungkin mengalami kebodohan, kemiskinan dan mudah terpecah-pecah dan dijajah. Muhammadiyah ada di ranting sebagai pembina, pembimbing, koordinasi, dan pengintegrasian kegiatan di ranting, jadi Muhammadiyah diawali dengan bagian terkecil. Dengan sistem seperti ini membuat Muhammadiyah semakin sukses dalam membangun amal usaha baik yang bergerak di bidang pendidikan, bidang sosial, bidang kesehatan, bidang ekonomi, dan bidang kesehatan.


Gerakan pembaharuan Muhammadiyah ini sudah ada sejak abad ke-19 dan ke-20 yang mana dari dulu hingga sekarang masih berkontribusi untuk kemajuan bangsa Indonesia. Walaupun tujuan khusus dari berdirinya Muhammadiyah adalah untuk memurnikan akidah masyarakat yang terkena TBC (anti-Takhayul, anti-Bid’ah, dan anti-Churafat), hingga di zaman sekarang gerakan dakwah Muhammadiyah di abad ke-21 ini membawa pada gerakan pembaharuan yang membawa perubahan yang berkemajuan.


Sebagai “Kader Ikatan” Muhammadiyah penting bagi kita untuk merefleksikan ungkapan dari KH. Ahmad Dahlan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah”, dimana hal ini perlu menjadi pertimbangan dalam menjadikan ruh berdakwah di Muhammadiyah semakin kuat. Layaknya sebuah istilah “seleksi alam” dalam berdakwah, hanya orang-orang yang memiliki niat dan tekad yang akan mampu bertahan di masa sekarang maupun masa yang akan datang karena memiliki sikap rela berjuang untuk kepentingan umat bukan hanya keuntungan duniawi. Dan sangat penting untuk generasi sekarang menyiapkan kader-kader yang unggul agar menjadi ujung tombak penerus perjuangan cita-cita dari Muhammadiyah yaitu menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Baik itu Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Nasyiatul Aisyiyah (NA), Tapak Suci, Hizbul Wathan, dan organisasi otonom lainnya.

 

Dalam rangka perayaan Milad Muhammadiyah ke-109 Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Haedar Nashir menjelaskan di situasi sekarang ini memberi pelajaran penting dalam kehidupan. Sebagaimana tercantum dalam tujuan Islam (maqashidu asy-syariah), yaitu kehidupan harus dilestarikan yang berkaitan dengan perlindungan terhadap jiwa-raga, akal, harta dan keturunan yang baik, dengan segala hubungan perlindungan harus dijaga dengan penuh pertanggungjawaban secara komprehensif yang memiliki pondasi hidup beragama, sehingga kemashalatan umat insyaAllah dapat tercapai. Oleh karena itu, Muhammadiyah mengajak dari berbagai eleman bangsa untuk terus berusaha secara maksimal dan terus saling menguatkan satu sama lain dengan mengeratkan solidaritas, negara ini senantiasa dapat tumbuh rasa optimism kolektif, semangat gotong royong agar negeri ini tangguh dalam menghadapi segala tantangan zaman.

 

REFERENSI

https://nasihatsahabat.com/manhaj-dakwah-muhammadiyah-dulu-dan-sekarang/

https://www.bengkulutoday.com/muhammadiyah-antara-yang-dulu-dan-yang-sekarang 

https://www.academia.edu/32610879/PERKEMBANGAN_MUHAMMADIYAH 

https://www.goriau.com/berita/baca/muhammadiyah-kini-dan-dulu.html 

https://www.maturmu.id/muhammadiyah-dulu-dan-sekarang/ 



Oleh: Isro Fajariya Hafizha

Monday, July 11, 2022

Gerakan Mahasiswa sebagai Landasan Ilmu Berpikir Kritis


Mahasiswa,siapakah mahasiswa itu? Apakah dia yang mendapat gelar yang sudah menyelesaikan masa SMA?,apakah dia yang sudah menempuh beratnya masuk sebuah universitas?,apakah dia pemegeang gelar Agent of Change sebuah Negara?,apakah dia yang menempuh pendidikan diperguruan tinggi negeri atau swasta?.Dari semua pertnyaan tersebut jawabannya ya itulah mahasiswa.Tapi menurutku Mahasiswa adalah dia yang membawa negeri ini pada kemajuan atau pada kehancuran.Mengapa saya mengatikan demikian,karena dilihat dari record yang ada banyak aktivis mahasiswa yang menggunakan pemikiran mereka dulu untuk memberontak pemerintah yang mereka kira peraturan yang dibuat pemerintah menyusahkan rakyat,namun sekarang berbeda banyak mahasiswa yang memberontak dulu terhadap pemerintah dan sekarang apa?mereka ikut dalam pemerintahan yang dulu mereka tentang dan hanya mementingkan golongan partai mereka sendiri dan menyusahkan rakyat.Apakah semua mahasiswa yang memberontak seperti itu? Jawabnnya Tidak masih ada tokoh-tokoh aktivis mahasiswa masa lalu yang terus berggerak mengembangkan dan memajukan negeri ini.Itulah arti sebnarnya mahasiwa siapa yang memjukan negeri ini dan siapa yang menghancurkan negeri ini dengan pemikiran mereka.

Apa itu gerakan mahasiswa? Demo? Seminar? Yang mengadakan gerakan keagamaan? Yang mengadakan gerakan sosial?.Ya itulah perumpamaan apa itu gerakan mahasiswa.Gerakan mahasiswa menurutku adalah gerakan berdasarkan moral para mahasiswa dalam menghadapi suatu permasalahn yang tidak bisa diselesaikan masyarakat.Gerakan mahasiswa ini juga ajang dalam mahasiswa meningkatkan intlektualitas dan kepemimpinan mereka.Menapa dikatakan ajang dalam meningkatkan intlektualitas karena mahasiswa dituntut bepikir kritis dalam suasana yang sangat tidak tertata atau kacau,serta perlu membuat sebuah solusi atas permasalahan yang ada.Serta mengapa itu sebagai ajang kepemimpinan,dimana para mahasiswa khususnya aktivis mahasiswa perlu mengajak para mahasiswa dalam berkontribusi dalam menyelesaikan suatu permasalah di masyarakat.Namun sering juga mahasiswa mendapatkan kritik buruk dari masyarakat,yang misal dianggap arogan saat demonstrasi tak kala ada bentrok dan perusakan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab,yang menjuruskan kesalahan ke mahasiswa.Serta sering juga mahasiswa dikatakan tidak aktif saat ada permasalahn yang terjadi di masyarakat.Disini mahasiswa sangat ditekan untuk aktif dalam menyelesaikan suatu permasalahan,yang mana posisi mahasiswa serba salah.Yang mana mahasiswa diberi beban yang mana belum atau belum bisa membantu menyelesaikan permasalahan yang ada.

Berpikir kritis,apa itu berpikir kritis? Berpikir saja? Kreatif ? inovatif ? ya itu juga merupakan sedikit arti dari apa itu berpikir kritis.Berpikir kritis adalah kegiatan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan dengan inovatif,kreatif serta tidak menelan secara mentah segala informasi yang didapat.Skill ini sangat diperlukan para mahasiswa untuk menjalani kehidupan kuliag maupun kehidupan mereka masing-masing agar bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri secara akademis dan kritis.Skill ini tidak didapat secara instan namun melalui banyak proses yang mana perlu mengalami permasalahan-permasalahan yang berat,maupun melihat dan mendengarkan pengalaman dari orang-orang hebat yang pernah mengalami/menyelesaikan permasalahn yang mereka hadapi.

Jadi apa hubungan berpikir kritis dan gerakan mahasiswa?hubungannya pastilah selaras,gerakan mahasiswa ada karena permasalahan yang tidak terselesaikan di masyarakat dan mahasiswa ambil peran untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.Terus bagaimana menyelesaiakan masalah tersebut? Dengan berpikir kritis,tentu dengan memberikan solusi yang tepat atas permasalahan yang ada,dengan mempertimbang banyak aspek undang-undang yang ada,ekonomi,agama, dan bukti-bukti dari permasalahan yang ada.Mengapa gerakan mahasiswa dianggap landasan berpikir kritis,karena gerakan mahasiswa menelusuri setiap sudut masyarakat permasalahan apa yang belum terselesaikan.Dengan hasil penelusuran gerakan mahasiswa itu menjadi landasan berpikir kritis mahasiswa untuk menyelesaikan masalah yang ada dengan bukti yang kongkrit.

Gerakan mahasiswa juga berdasrakan atas moral,yang mana menurut menurut mereka ada ketimpangan yang terjadi di masyarakat,dengan itu juga bisa menjadi landasan untuk mahasiswa berpikir kritis atas ketimpangan tersebut.

Kita sebagai mahasiswa perlu bergerak berpikir kritis atas segala permasalahan yang terjadi di Bumi Indonesia kita ini.Kita sebagai penerus bangsa perlu bisa menyelesaikan masalah yang ada agar kita siap bergesekan dengan masalah yang akan kita hadapi saat kita menduduki kursi pemerintahan.Harapannya para mahasiswa bisa menjadi penerus bangsa yang amanah dengan tugas yang sudah diserahkan pada mereka.


Oleh     :Catur Yuni Ardiyansyah 

NIM : F100210150


Saturday, July 09, 2022

FILSAFAT SOSIAL

 Pengertian Filsafat Sosial

filsafat sosial, terdiri dari dua istilah yaitu filsafat dan sosial. filsafat sendiri diartikan sebagai ilmu tentang ilmu pengetahuan dan sosial berarti masyarakat. 

dikutip dari wikipedia filsafat sosial adalah kajian dari filsafat yang mempelajari persoalan-persoalan perilaku sosial kemasyarakatan secara kritis,radikal,dan lebih komprehensif. 

dari jurnal pengantar filsafat sosial oleh M. taufiq rahman, Ph.D dituliskan dari The Cambridge Dictionary of Philosophy (1995), kita dapatkan definisi sebagai berikut: “Filsafat sosial, secara umum berarti filsa- fat tentang masyarakat, di dalamnya termasuk filsafat ilmu sosial (dan banyak komponennya, misalnya, ekonomi dan sejarah), filsafat politik, kebanyakan dari apa yang kita kenal sebagai etika, dan filsafat hukum.”

dari pengertian pengertian diatas maka saya menyimpulkan yang dimaksud dengan filsafat sosial adalah kajian tentang suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari persoalan-persoalan sosial masyarakat, yang mencakup banyak komponen seperti ekonomi, dan sejarah. 


Ruang Lingkup Filsafat Sosial

filsafat sosial yang diartikan sebagai ilmu yang mempelajari persoalan-persoalan sosial, ruang lingkup yang dipelajari adalah hubungan individu dengan kelompok,hubungan antar kelompok. dalam sebuah artikel yang ditulis fitri handayani disebutkan beberapa ruang lingkup dalam filsafat sosial : 

  • mempertanyakan dan membicarakan persoalan dalam masyarakat (society) dalam individualisme 

  • persoalan individu dalam hubungannya dengan negara 

  • persoalan yang menyangkut hak-hak asasi dan otonomi 

  • persoalan keadilan sosial (justice) dan social cooperation 

  • persoalan keadilan dan kebebasan 

  • persoalan antara moral dan hukum 

  • persoalan masalah moral dan kebebasan 

  • permasalahan masalah ilmu-ilmu sosial 

dalam filsafat sosial juga ada juga da bahan formal dan bahan material filsafat sosial.

dalam jurnal karya M. taufiq rahman, Ph.D yang berjudul pengantar filsafat sosial, dituliskan:

Bahan material filsafat sosial adalah sesuatu yang dapat menyelidiki berbagai bidang dalam masyarakat, maka kita dihadapkan pada kenyataan bahwa manusia hidup bersama dengan sesama manusia, bahwa mereka secara bersama-sama menimbulkan keadaan hidup material dan rohaniah yang sebaliknya memberikan pengaruh pada mereka. Hal ini dapat disaksikan secara lahiriah maupun batiniah. Lahiriah dapat berbentuk, pergaulan di antara mereka, saling bercakap-cakap, dsb. Batiniah dapat diaplikasikan melalui segala norma-norma yang tidak tampak. 

Bahan formal filsafat sosial, saling kaitan dengan bahan material filsafat sosial namun bahan formal filsafat sosial  ini dapat ditinjau dari sisi Relasi Individual dan Relasi sosialnya. Relasi individual itu sendiri berlangsung dari subjek ke subjek. Motif atau dasar relasi ini adalah dasar kebajikan dan kehormatan orang lain. Contoh relasi ini seperti rasa simpati, cinta kasih antar manusia, juga terima kasih dan rasa hormat. Sedangkan relasi sosial adalah relasi yang mempersatukan sejumlah orang karena adanya suatu objek yang menengahinya. Objek inilah yang membentuk relasi sosial, mungkin material dan mungkin ideal. Oleh karena itu, terkadang sulit membedakan antara relasi perseorangan dan relasi sosial sebab keduanya saling memengaruhi, relasi sosial termasuk dalam relasi perseorangan begitu pun sebalikny

relasi


filsafat sosial membicarakan tentang pertanyaan-pertanyaan filsuf tentang isu isu sosial dan perilaku sosial. filsafat sosial memiliki cakupan bahasan cuku luas diantaranya ide,tema,dan teori filsafat sosial. 

ide-ide filsafat sosial seperti teori kontrak sosial, kritik kebudayaan, dan individualisme. 

Tema-tema yang dibahas dalam filsafat sosial mengan- dung epistemologi, metafisika, filsafat politik, moralitas, dan sebagainya. Tema-tema utama dalam filsafat sosial adalah diri, entitas sosial, dan hubungan di antaranya. Individualisme seringkali muncul dalam filsafat sosial, termasuk persoalanpersoalan pemisahan diri, atau kekurangan orang per orang dari masyarakat. 


dalam jurnal karya  M. taufiq rahman, Ph.D  yang berjudul pengantar filsafat sosial juga dijelaskan hubungan hubungan filsafat sosial, Filsafat sosial juga berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Nilai-nilai sosial dapat berhubungan dengan moralitas, terutama dalam hubungannya dengan teori-teori moral yang mendefinisikan moralitas dengan apa yang masyarakat dukung atau tidak dukung. Untuk alasan ini, filsafat sosial tumpang tindih dengan moralitas dan nilai-nilai moral.

melihat fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini seperti si miskin dan si kaya disini filsafat sosial bermanfaat memelihara dan menjaga nilai kenyataan sosial yakni aspek teknis dan aspek kemanusiaan. 


Oleh : Lia Ratna Widyawati

B100200047


Thursday, July 07, 2022

Gerakan Sosial dari Pemikiran Muhammadiyah

 Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah dalam tahun 1912, syarat umat Islam dalam ketika itu pada keadaan sangat terpuruk, dan kurang pandai menggunakan taraf pendidikan yang sangat rendah kemakmuran & ekonomi yang parah dan kemampuan politis yang tidak berdaya. Prinsip primer gerakan sosial Muhammadiyah adalah output pemahaman terhadap ajaran islam yg termaktub pada al-Qur’an & as-sunnah output pemahaman demikian dirumuskan menjadi pola kelakuan usaha Muhammadiyah yg lalu mendorong memberi arah dan bentuk setiap aktifitas Muhammadiyah.

Gerakan Sosial Muhammadiyah adalah gerakan yang terinspirasi berdasarkan QS. At-taubah ayat 60 yang isi nya mengungkapkan mengenai telompok penerima zakat, fakir miskin dan yatim piatu yg masuk golongan harus  mendapat zakat. Secara generik, gerakan sosial Muhammadiyah merupakan keagamaan. Bidang keagamaan  tersebut  mencakup  memberikan  tuntunan  dan  pedoman  pada  bidang  aqidah, ibadah,  akhlak  dan  muamalah  berdasarkan  alquran  dan sunnah, mendirikan masjid  dan mushalla  menjadi  tempat  sarana  ibadah,  mencetak  kader  ulama  (fuqaha),  mempelajari aneka macam kajian keislaman dan perkembangan umat islam, memberi fatwa dan tuntunan pada bidang keagamaan dan melakukan dakwah.

Gerakan yang dibangun sang muhammadiyah terbagi sebagai 4 gerakan sosial antara lain gerakan pada Bidang Pendidikan, Bidang Kesehatan, Bidang kesejahteaan sosial dan Bidang kaderisasi. (1) Bidang pendidikan yg mencakup pendidikan yg beroerientasi  pada perpaduan  antara sistem  pendidikan  generik & sistem pesantren. (2) Makna gerakan sosial pada bidang kesehatan, gerakan sosial adalah sebuah langkah Muhammadiyah pada melakukan dakwah bi al-Hal (menggunakan perbuatan) atau bukti konkret menggunakan mengadakan bakti sosial pada pelayanan kesehatan, seperti  mendirikan tempat tinggal   sakit & pada moment eksklusif mengadakan pengobatan untuk masyarakat luas tanpa terkhusus bagi masyarakat Muhammadiyah. (3) Bidang kesejahteraan sosial yg mencakup  aktivitas pada bentuk amal usaha, balai pengobatan, panti asuhan anak yatim, panti jompo, santunan keluaga kurang mampu, santunan kematian, dan panti stigma netra. (4) Bidang Kaderisasi muhammadiyah menyelenggarakan baitul arqam.

Gerakan sosial adalah bagian dakwah menggunakan bukti konkret yaitu dakwah yg mengedepankan konduite yg konkret yg telah dicontohkan sang Nabi Muhammad SAW saat mendamaikan dan menyatukan persaudaran antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Gerakan sosial ini bisa dilakukan menggunakan aneka macam pendekatan keilmuan & kebutuhan masyarakat. Ide dan nilai dasar gerakan sosial pada Muhammadiyah merupakan merujuk pada al- Qur’an dan hadis Nabi SAW, lantaran Muhammadiyah  melakukan segala bentuk kegiatannya berdasarkan al-Qur’an & hadis Nabi SAW. K.H. Ahmad Dahlan menjadi sosok langsung yg faham terhadap al-Qur’an, mengamalkannya menggunakan bukti konkret pada tengah-tengah masyarakat. Pemahamannya terhadap surat Al-Imran ayat 104 & surat Al-Ma’un ayat 1-7 membawanya sebagai seseorang yang peduli terhadap persoalan sosial yang dihadapi umat Islam.Gerakan sosial yg dilakukan K.H. Ahmad Dahlan adalah bentuk purifikasi ajaran Islam dimana Islam hanya menjadi formalitas yang hampa tanpa terdapat bukti konkret. Oleh lantaran itu, James L. Peacock pada risetnya “Purifiying of the Faith: The Muhammadiyah Movement in Indonesia Islam”, menentukan Muhammadiyah menjadi gerakan pemurnian Islam terbesar pada Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

(HARJONO, 2020; Kompasiana, 2020; Quraisy, Agustang, & Asrifan, 2021; Rahardiyan, 2019)

Harjono, E. O. (2020). MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN SOSIAL DAN KESEHATAN.

Kompasiana. (2020). Gerakan Sosial Muhammadiyah. Retrieved April 8, 2022, from https://www.kompasiana.com/adindavega3293/5e1fe296d541df09c1492b52/gerakan-sosial-muhammadiyah

Quraisy, H., Agustang, A., & Asrifan, A. (2021). MUHAMMADIYAH DALAM GERAKAN SOSIAL DI KABUPATEN WAJO. https://doi.org/10.31219/osf.io/dpsg9

Rahardiyan, Z. (2019). GERAKAN SOSIAL MUHAMMADIYAH DI KAMPUNG NITIKAN TAHUN 1954-2018 M. Skripsi, 3, 1–9.


Opini Pelecehan Seksual dalam lingkup Universitas Muhammadiyah Surakarta

Tinggal sendiri nan jauh dari pengawasan orang tua, di tuntut mandiri dan mendapatkan hasil yang baik dalam menjalankan kuliah guna memenuhi...